Menu

Minggu, 17 Mei 2015

Metamorphosa




 “Kupu-kupu tak pernah tahu bentuk dan apa yang dilakukannya saat menjadi ulat”

Pagi ini, aku menikmati sesuatu yang berbeda. Kabut tipis masih menghalangi jarak pandangku. Tanaman-tanaman hias terlihat lebih segar ditumpangi bulir-bulir air dari udara yang tengah menyublim. Lain halnya Minggu kemarin saat masih di kota perantauan—hanya dinding dan bangunan menjulang tinggi yang terlihat sejauh mata memandang.
Dulu, taman di pekarangan rumah yang dipenuhi Tanaman-tanaman hias memang menjadi tempat favorit di keluargaku. Tanaman-tanaman itu berjejer rapi melingkar—mengelilingi saung kecil di tengahnya. Beberapa koleksi tanaman baik tanaman hias daun ataupun bunga ada. Sebut saja: Anthurium, Aglaonema, Sansevieria, daun kadaka, bunga mawar, melati, anggrek, krisan, kamboja, dan masih banyak lainnya.
 Namun, sesungguhnya taman itu adalah tempat yang paling aku hindari saat ini. Bukannya ku menolak keindahannya, melainkan kekecewaan akan hilangnya kenangan-kenangan indah bersama ayah yang masih terekam jelas tak dapat lagi kunikmati bersamanya.
Sejenak, bayangan itu hadir satu per satu saat ada penggalan  momen yang terulang. Seperti saat kupu-kupu beterbangan mencari nektar bunga dari tanaman satu ke tanaman lain. Ku lihat ayah berteriak memanggilku untuk melihat indahnya corak warna kupu-kupu itu.
“ Takkan sanggup ku berlama-lama di tempat ini,” gumamku.
Bahkan tak lagi sempat ku menyadari ada air mata yang menetes di pipiku. Sesegara aku menuju kamar. Dengan langkah penuh hati-hati aku menghindari ibu, tak kuasa aku juga akan melihat tangisan ibu ketika melihat mataku memerah.
Lalu ku putuskan untuk membuat rencana kegiatan selama liburan di rumah. Dan pastinya takkan kutuliskan menyiram taman. Menyapu, ngepel, nyuci baju menjadi pilihan yang lebih baik ketimbang merawat taman kenangan itu .
Di hari berikutnya ku mulai menjalankan rutinitas yang sudah kurencanakan. Hari ini juga masih berkabut. Memang saat pergantian musim seperti ini kabut takkan pernah absen menyejukkan pagi.
Agar mendapatkan panas yang lebih awal aku mulai dengan menyuci baju yang sudah menumpuk di keranjang pakaian kotor.
“rajin amat sar, ngga nyiram tanaman dulu,” ibu menyapa.
Mendengar kata taman, seperti halnya ada yang menekan tombol ‘open’ di pintu memoriku.
“Saaaar…”
“ya bu..sepertinya embun sudah membasahi tanamanan-tanaman itu,” aku melogiskan tolakanku sehingga ibu tak lagi berbicara lebih.
Dengan penuh semangat langsung ku segerakan membersihkan setiap sudut rumah. Dan ruang kerja ayah adalah ruang terakhir yang aku pilih. Rasa kecewa akan kehilangan sosoknya membuatku menghindar dengan apa yang bisa menghubungkan dengan nya kembali.
Antara yakin dan tidak, kuputuskan untuk masuk ruangan ayah. Ruangan itu masih sama persis saat ayah meninggalkan kami. Ruangan itu berisi buku buku bacaan ayah yang berjejer rapi memenuhi seluruh ruangan.
Keanehan terjadi..ketika aku mengambil buku dan membukany—tiba-tiba muncul sesosok pria mungil berkacamata yang duduk di kursi roda dan seperti sedang menerangkan tentang teori Black Hole.
Karena terkejut, aku berlari keluar ruangan dan melemparkan  buku itu. Sentak sesosok itu juga menghilang dan tak terdengar lagi suara anehnya yang seperti robot.
Rasa penasaran dan takut yang menyelimuti pikiran, membuatnya termenung mencoba melogikakan apa yang baru terjadi. Akhirnya kucoba beranikan diri menyusuri setiap sudut ruangan dan mencari sosok itu. Tetapi karena tak menemukan ataupun, sisi  magis menghantui batiinnya. Ia mencoba melawan rasa takut dengan fokus melihat judul-judul koleksi buku yang ada.
Pada titik ini aku menyadari ternyata ayah adalah seorang yang gemar membaca buku. Dan bergumam..”pantas semua pertanyaan yang aku ajukan ke ayah, bisa menjelaskan dengan baik. Tidak hanya itu, ayah juga pribadi yang sangat bijaksana ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.”
Ia teringat bagaimana ayahnya dengan sabar berjuang melawan kanker yang ada di tubuhnya.  Bahkan sampai nafas terakhir yang ia hembuskan, garis pipinya masih terangkat meronakan wajah penuh senyum. Seolah-olah ia sedang menasehati kami agar tak terus menerus meneteskan air mata. “ku ingin melihat senyum termanis kalian”, seiring hembusan nafas terakhirnya.
Ku coba lagi untuk membaca koleksi buku ayah yang berada di bagian ujung rak. Lagi-lagi, kejadian serupa terjadi. Kali ini, seorang pria berkacamata dan berjanggut tipis yang mulai memutih muncul. Ia berdiri dan mulai menceritakan tentang Parmenides dan Heraclitus—seorang filsuf yunani kuno yang berbeda pandangan terkait adanya perubahan-perubahan yang terjadi di dunia.
Ia belum berhenti sampai disitu dan terus menceritakan pemikiran tokoh-tokoh filsuf dari zaman ke zaman. Dan aku tetap terpaku mendengarkannya sambil membuka setiap halaman. Tiba-tiba ia berhenti ketika ku temukan beberapa lembaran yang terselip di pertengahan buku itu. 
“Apa kabar anakku tersayang”
Sekujur tubuhku merinding membaca kalimat pertama itu. Dan tetesan air mata tak bisa kucegah seketika sosok ayah berdiri di sampingku. Dengan senyuman khasnya, Ia menyapa lagi.
“Apa kabar anakku tersayang”
Seperti seorang yang bermimpi—antara sadar dan tidak, aku hanya terdiam sambil menahan isak tangisku. Dan ayah melanjutkan perkataanya.
“Akhirnya Gadis kecil ku berkenalan dengan Jostein Gaarder, baca buku ini sampai selesai nak... Wajahmu mengingatkanku pada raut wajah ibumu saat pertama bertemu. Keberadaanku hanya sebentar, jadi cobalah tersenyum seindah kupu-kupu yang pernah aku tunjukkan kepadamu. Oh ya..sudahkah kau tengok taman kecil kita? Sesekali cobalah kau perhatikan, kepompong-kepompong yang bergelantungan di tanaman itu. Begitulah ayah saat ini, terdiam menunggu masa menjadi kupu-kupu. Ada satu penyesalan besar yang tidak ayah lakukan saat masih bersama kalian. Seandainya yang kutulis tidak hanya beberapa lembar kertas mungkin ayah selalu  di sampingmu—membimbingmu mengarungi dunia yang selalu berubah. MAAF…”
Ayaaaah,,,,,semakin terisak tangisku—menyadari sosoknya telah menghilang dan ia pergi tanpa salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar