Menu
▼
Selasa, 26 Mei 2015
Minggu, 17 Mei 2015
Metamorphosa
“Kupu-kupu tak pernah
tahu bentuk dan apa yang dilakukannya saat menjadi ulat”
Pagi ini, aku menikmati sesuatu yang berbeda. Kabut tipis masih
menghalangi jarak pandangku. Tanaman-tanaman hias terlihat lebih segar ditumpangi
bulir-bulir air dari udara yang tengah menyublim. Lain halnya Minggu kemarin
saat masih di kota perantauan—hanya dinding dan bangunan menjulang tinggi yang
terlihat sejauh mata memandang.
Dulu, taman di pekarangan rumah yang dipenuhi Tanaman-tanaman hias memang
menjadi tempat favorit di keluargaku. Tanaman-tanaman itu berjejer rapi
melingkar—mengelilingi saung kecil di tengahnya. Beberapa koleksi tanaman baik
tanaman hias daun ataupun bunga ada. Sebut saja: Anthurium, Aglaonema,
Sansevieria, daun kadaka, bunga mawar, melati, anggrek, krisan, kamboja, dan
masih banyak lainnya.
Namun, sesungguhnya taman itu
adalah tempat yang paling aku hindari saat ini. Bukannya ku menolak
keindahannya, melainkan kekecewaan akan hilangnya kenangan-kenangan indah bersama
ayah yang masih terekam jelas tak dapat lagi kunikmati bersamanya.
Sejenak, bayangan itu hadir satu per satu saat ada penggalan momen yang terulang. Seperti saat kupu-kupu
beterbangan mencari nektar bunga dari tanaman satu ke tanaman lain. Ku lihat
ayah berteriak memanggilku untuk melihat indahnya corak warna kupu-kupu itu.
“ Takkan sanggup ku berlama-lama di tempat ini,” gumamku.
Bahkan tak lagi sempat ku menyadari ada air mata yang menetes di pipiku.
Sesegara aku menuju kamar. Dengan langkah penuh hati-hati aku menghindari ibu,
tak kuasa aku juga akan melihat tangisan ibu ketika melihat mataku memerah.
Lalu ku putuskan untuk membuat rencana kegiatan selama liburan di rumah.
Dan pastinya takkan kutuliskan menyiram taman. Menyapu, ngepel, nyuci baju menjadi
pilihan yang lebih baik ketimbang merawat taman kenangan itu .
Di hari berikutnya ku mulai menjalankan rutinitas yang sudah kurencanakan.
Hari ini juga masih berkabut. Memang saat pergantian musim seperti ini kabut
takkan pernah absen menyejukkan pagi.
Agar mendapatkan panas yang lebih awal aku mulai dengan menyuci baju yang
sudah menumpuk di keranjang pakaian kotor.
“rajin amat sar, ngga nyiram tanaman dulu,” ibu menyapa.
Mendengar kata taman, seperti halnya ada yang menekan tombol ‘open’ di
pintu memoriku.
“Saaaar…”
“ya bu..sepertinya embun sudah membasahi tanamanan-tanaman itu,” aku
melogiskan tolakanku sehingga ibu tak lagi berbicara lebih.
Dengan penuh semangat langsung ku segerakan membersihkan setiap sudut
rumah. Dan ruang kerja ayah adalah ruang terakhir yang aku pilih. Rasa kecewa
akan kehilangan sosoknya membuatku menghindar dengan apa yang bisa
menghubungkan dengan nya kembali.
Antara yakin dan tidak, kuputuskan untuk masuk ruangan ayah. Ruangan itu
masih sama persis saat ayah meninggalkan kami. Ruangan itu berisi buku buku
bacaan ayah yang berjejer rapi memenuhi seluruh ruangan.
Keanehan terjadi..ketika aku mengambil buku dan membukany—tiba-tiba
muncul sesosok pria mungil berkacamata yang duduk di kursi roda dan seperti
sedang menerangkan tentang teori Black Hole.
Karena terkejut, aku berlari keluar ruangan dan melemparkan buku itu. Sentak sesosok itu juga menghilang
dan tak terdengar lagi suara anehnya yang seperti robot.
Rasa penasaran dan takut yang menyelimuti pikiran, membuatnya termenung
mencoba melogikakan apa yang baru terjadi. Akhirnya kucoba beranikan diri menyusuri
setiap sudut ruangan dan mencari sosok itu. Tetapi karena tak menemukan
ataupun, sisi magis menghantui
batiinnya. Ia mencoba melawan rasa takut dengan fokus melihat judul-judul koleksi
buku yang ada.
Pada titik ini aku menyadari ternyata ayah adalah seorang yang gemar membaca
buku. Dan bergumam..”pantas semua pertanyaan yang aku ajukan ke ayah, bisa
menjelaskan dengan baik. Tidak hanya itu, ayah juga pribadi yang sangat bijaksana
ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.”
Ia teringat bagaimana ayahnya dengan sabar berjuang melawan kanker yang
ada di tubuhnya. Bahkan sampai nafas
terakhir yang ia hembuskan, garis pipinya masih terangkat meronakan wajah penuh
senyum. Seolah-olah ia sedang menasehati kami agar tak terus menerus meneteskan
air mata. “ku ingin melihat senyum termanis kalian”, seiring hembusan nafas
terakhirnya.
Ku coba lagi untuk membaca koleksi buku ayah yang berada di bagian ujung
rak. Lagi-lagi, kejadian serupa terjadi. Kali ini, seorang pria berkacamata dan
berjanggut tipis yang mulai memutih muncul. Ia berdiri dan mulai menceritakan
tentang Parmenides dan Heraclitus—seorang filsuf yunani kuno yang berbeda
pandangan terkait adanya perubahan-perubahan yang terjadi di dunia.
Ia belum berhenti sampai disitu dan terus menceritakan pemikiran
tokoh-tokoh filsuf dari zaman ke zaman. Dan aku tetap terpaku mendengarkannya
sambil membuka setiap halaman. Tiba-tiba ia berhenti ketika ku temukan beberapa
lembaran yang terselip di pertengahan buku itu.
“Apa kabar anakku tersayang”
Sekujur tubuhku merinding membaca kalimat pertama itu. Dan tetesan air
mata tak bisa kucegah seketika sosok ayah berdiri di sampingku. Dengan senyuman
khasnya, Ia menyapa lagi.
“Apa kabar anakku tersayang”
Seperti seorang yang bermimpi—antara sadar dan tidak, aku hanya terdiam
sambil menahan isak tangisku. Dan ayah melanjutkan perkataanya.
“Akhirnya Gadis kecil ku berkenalan dengan Jostein Gaarder, baca buku ini
sampai selesai nak... Wajahmu mengingatkanku pada raut wajah ibumu saat pertama
bertemu. Keberadaanku hanya sebentar, jadi cobalah tersenyum seindah kupu-kupu
yang pernah aku tunjukkan kepadamu. Oh ya..sudahkah kau tengok taman kecil
kita? Sesekali cobalah kau perhatikan, kepompong-kepompong yang bergelantungan
di tanaman itu. Begitulah ayah saat ini, terdiam menunggu masa menjadi
kupu-kupu. Ada satu penyesalan besar yang tidak ayah lakukan saat masih bersama
kalian. Seandainya yang kutulis tidak hanya beberapa lembar kertas mungkin ayah
selalu di sampingmu—membimbingmu
mengarungi dunia yang selalu berubah. MAAF…”
Ayaaaah,,,,,semakin terisak tangisku—menyadari sosoknya telah menghilang
dan ia pergi tanpa salam.
Rabu, 13 Mei 2015
Berguru Budidaya Perikanan Dari Norwegia
| Budidaya perikanan di Norwegia. (www.ntnu.no) |
Saat ini Indonesia menempati urusan kedua dalam produksi perikanan di dunia. Walaupun begitu dengan besarnya potensi yang dimiliki, saya kira kita tidak harus cepat puas dengan peringkat itu. Diakui atau tidak, jika kita coba bandingkan dengan Negara-negara maju lain yang memiliki predikat baik dalam sektor perikanan, Negara kita masih tertinggal dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki. Dan lagi sektor perikanan saat ini juga belum mampu mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat kita secara signifikan.
Kalau kita merujuk Norwegia misalnya, negara kecil dengan luas wilayah 385.199 Km2 ini hanya mempunyai garis pantai sepanjang 83.000 km. Namun, Norwegia merupakan negara yang maju didalam industri perikanan. Kemampuan negara ini dalam mensejahterakan warga negaranya dengan memaksimalkan potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki, dapat dijadikan contoh (role model) oleh bangsa kita tentang bagaimana manajemen perikanan yang baik. Dengan PDB (produk domestik bruto) per kapita sebesar 83.485, negara ini menempati posisi kedua Negara dengan PDB terbesar di dunia, dibawah Luksemburg.
Norwegia merupakan pemasok ikan dan produk ikan terbesar di Eropa. Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir, nilai ekspor negara tersebut meningkat dua kali mencapai 30 milyar NOK. Hampir 95 % hasil produk ikan dari negara ini diekspor, dalam bentuk lebih dari 2.000 jenis roduk ke sekitar 160 negara. Negara beribukota Oslo tersebut berhasil memanfaatkan bisnis budidaya ikannya hingga USD10 miliar per tahunnya.
Menurut pakar perdagangan dan lingkungan Herjuno Ndaru Kinasih ada tiga jenis integrasi dalam perekonomian di Norwegia yang berdampak pada kinerja sektor perikanan. Tiga jenis integrasi itu adalah integrasi aktor, integrasi sistem, dan integrasi pengetahuan. Menurut saya, integrasi tersebut merupakan hubungan yang sinergis antara aktor atau para pelaku usaha budidaya perikanan mulai dari petani, pemerintahan, pihak swasta (industri) baik yang konsen dalam bidang budidaya perikanan seperti CP Prima atau lembaga lainnya.
|
·
Norsk Havbrukssenter,
Norwegian Aquaculture Center (http://images3.citybreak.com) |
Integrasi Aktor ini merupakan ranah teknis dalam pengelolaan budidaya perikanan. Di Norwegia, sebagian besar masayrakat yang menekuni budidaya perikanan tergabung dalam wadah koperasi, jadi tidak berdiri sendiri-sendiri. Pembentukan komunal itu bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan perekonomian budidaya perikanan. Bahkan disebutkan bahwa di Norwegia antara satu koperasi yang satu dengan yang lainnya terkadang berjalan beriringan. Guna memperluas jaringan, di koperasi-koperasi yang ada terintegrasi dalam mengekspor hasil produksi. Misalnya, untuk menyewa sebuah kapal pengangkut ikan ke negara tetangga, sebuah koperasi harus memenuhi kuota pengiriman minimal sekian ton. Karena tidak mencukupi kuota, maka koperasi tersebut mencari mitra yang juga melakukan ekspor dengan tujuan yang sama agar biaya pengiriman dapat ditekan.
Hubungan yang terjalin juga tidak hanya antar petani saja, tetapi para petani juga harus bisa berhubungan baik dengan aktor-aktor lainnya seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Dalam hal permodalan, Bank atau pemerintah harus bisa memenuhi kebutuhan petani dengan tidak memberatkan tentunya. Dalam urusan pengelolaan, misalkan saja ketersedian benih dan pakan, sektor industri seperti CP Prima bisa menyalurkan produk-produk berkualitasnya. Kemudian dalam hal distribusi, peran media dan jasa transportasi harus memudahkan petani menyalurkan hasil produksi ke tangan konsumen.
| Proses pengemasan Ikan Salmon (http://www.intrafish.com) |
Sistem merupakan bingkai dari semua proses yang terjadi baik itu dalam proses produksi, distribusi, maupun konsumsi. Keterhubungan ketiganya bisa berjalan dengan baik tentu dibutuhkan peraturan dan pengawasan yang baik pula. Di Norwegia, industri perikanan dan pejabat perikanan bekerja sama dalam menyusun peraturan. Dengan begitu aturan-aturan yang dibuat sesuai dengan kondisi dan tujuan bersama masing-masing aktor dapat dicapai. Kemudian, terkait pengawasan, penegakan hukum di Norwegia benar-benar ditegakkan. Direktorat Perikanan bertanggung jawab untuk mengkontrol jumlah ikan yang ditangkap dan menjaga statistik perikanan.
| Pemeriksaan Ikan Salmon (www.nvh.no) |
Integrasi ini melihat keterhubungan satu pandangan ilmu pengetahuan terhadap ilmu lainnya. Misalkan, bagiamana hubungan budidaya perikanan dengan teknologi perikanan, teknologi angkutan, pemasaran, dan tentu saja ilmu-ilmu atau kajian para akademisi dalam pengembangan budidaya pertanian. Norwegia memang diakui dunia karena keahliannya dalam bidang peralatan laut, perkapalan, dan kemampuan untuk mengekploitasi pasar pasar baru. Ekonomi kelautan Norwegia mencakup keseluruhan industri yang berkembang dan berhubungan dengan perkapalan dan industri akuakultur dimana mencakup beragam jenis produk dan layanan. Tak melulu tentang teknologi, di Norwegia juga mensyaratkan pengetahuan tentang ukuran bibit, komposisi umur, distribusi dan lingkungan tempat hidup. Tiap tahun, data dari survei sains Norwegia dan para nelayan dibandingkan dengan data dari Negara lain dan dinilai oleh International Council for Exploration of the Sea (ICES).
Jadi, pengetahuan ini juga termasuk bagaimana pengetahuan pengelolaan budidaya perikanan. Dalam hal ini, baik pemerintah, swasta atau lembaga lain bisa memberikan kontribusi dalam meningkatkan pengetahuan para petani. Misalkan saja dengan berbagai program, mulai dari program pendidikan lanjut tentang perikanan Indonesia melalui jalur akademis, kemudian pemerintah melalui dinas-dinas terkait dari hulu ke hilir berperan aktif mendampingi petani. Swasta juga bisa terlibat, jadi tidak hanya swasta lepas begitu saja kalau tidak menyangkut urusan perdagangan. Seperti halnya CP Prima yang sudah beberapa kali melalukan penelitian, pendidikan dan penyuluhan budidaya perikanan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Diharapkan dengan sinerginya ketiga aspek di atas, Indonesia bisa menjadi negeri yang sejahtera melalui perikanan.
Selasa, 12 Mei 2015
Kehidupan Abadi Henrietta Lacks
Judul: Kehidupan Abadi Henrietta Lacks
Judul Asli: The Immortal Life of Henrietta Lacks
Penulis: Rebecca Skloot
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2011
Tebal: 385 hlm
Selintas, ketika kita melihat cover buku dengan judul tersebut, mungkin kita akan berpikir kalau isi bukunya adalah karangan fiksi tentang usaha manusia yang ingin hidup abadi selama-lamanya. Seperti halnya banyka film tentang tema keabadian manusia yang diangkat. Dengan proses ritual yang aneh dan penuh magis, tokoh melakukan segala sesuatu demi terhindar dari fana nya kehidupan. Dan ternyata lain dari perkiraan, karena buku yang ditulis oleh seorang jurnalis science—Rebecca Skloot menceritakan perjalanannya dalam mencari asal muasal sel Hela selama 10 tahun. Seperti halnya saya, mungkin banyak yang belum tahu tentang sel itu, yang ternyata sangat berperan penting dalam penemuan-penemuan dalam dunia kesehatan.
Ketika kita periksa ke rumah sakit atau dokter mungin jarang sekali yang bisa berdialog aktif dengan dokternya. Atau minimal bertanya obat A untuk apa, obat B untuk apa, atau ketika kita dirawat di rongten jarang pasien yang akan bertanya apakah alat itu tidak bahaya bagi tubuh dirinya, atau barangkali ketika kia disuntik jarang yang bertanya jenis suntikannya apa, dan mungkin ketika salah satu anggota tubuh kita ada yang di ambil, apakah ada yang bertanya akan dikembalikan atau untuk apa bagian tubuh kita nanti?
Atau, ketika kita masih balita hampir semuanya pernah dikasih vaksin polio di Posyandu. Dan pernahkah kita bertanya untuk apa sih kita harus di vaksin atau mungkin bertanya dari mana sih obat-obat itu ditemukan? Saya yakin jarang. Karena pada umunya kita hanya mempercayai penuh pada petugas kesehatan.Begitu juga dengan tokoh yang ada diceritakan Rebecca dalam novelnya ini. Henreitta Lacks—seorang gadis budak yang berkulit hitam yang menderita kanker. Dan sel Hela adalah nama sel dari 2 huruf masing-masing nama Henrietta Lacks—diambil dari jaringan sel kanker yang ada di dalam tubuhnya.
Pada awalnya tidak ada yang tahu asal muasal nama itu, seperti halnya penulis yang penasaran dan ingin menyelidiki lebih dalam. Proses perjalanan itulah yang akhirnya ditulis dalam jangka waktu yang sangat lama yaitu 10 tahun. Begitu susahnya narasumber yang mau menceritakan kejadian yang sebenarnya tergambar jelas dengan banyaknya konflik yang Rebecca tuliskan.
Rupanya kehidupan Henreitta Lacks begitu malang, ketika ia menjadi pasien di rumah sakit karena menderita kanker, jaringan kanker yang ada di tubuhnya digunakan sebagai objek penelitian tanpa sepengetahuan henreitta dan keluarganya bahkan dirinya menjadi bahan percobaan para dokter waktu itu.
Sel HeLa merupakan sel manusia pertama yang bisa dikembangbiakkan di luar tubuh manusia.. sel HeLa berbeda dengn sel-sel manusia sebelumnya yg coba dibiakkan di dalam laboratorium namun tak kunjung berhasil. Sel HeLa terus berbiak tanpa henti, bahkan konon hingga sekarang. Sel HeLa sejak dibiakkan pertama kali di tahun 1950an, sudah berkembang lebih dari trliyunan kali, dan tersebar di seluruh penjuru dunia, ada di lab-lab riset dimana-mana. Sel HeLa jadi solusi untuk ujicoba & pengamatan berbagai penyakit/obat-obatan/kosmetik,dll.. solusi menguji pada tingkat sel manusia, sebelum menguji pada tingkat manusia. Sel Hela memungkinkan penemuan vaksin polio, kemoterapi, obat untuk herpes, leukimia, influenza, hemofilia, Parkinson. Bahkan sel HeLa pernah diledakkan dalam bom nuklir untuk mengetahui efek nuklir pada sel manusia, pernah dikirim ke luar angkasa untuk mengetahui efek sel manusia pada gravitasi tertentu.
Namun kesuksesan hasil dari sel yang ada diambil dari dirinya berbanding terbalik dengan derita yang dia alami dan keluarganya. Bahkan keluarga Lacks tidak mendapat kemudahan terhadap akses pelayanan kesehatan, padahal lewat sel HeLa bidang kesehatan berkembang pesat & jutaan nyawa mungkin terselamatkan. Keluarga Lacks dengan background pendidikan dasar seadanya dan otomatis tidak banyak mengerti tentang sains, mulai terusik saat jurnalis mulai tahu nama dibalik sel HeLa. Keluarga Lacks mengalami shock karena sel Henrietta masih “hidup” dan diperjualbelikan.
Ditengah rasa shock, marah, muak akan pertanyaan-pertanyaan jurnalis namun tidak bisa menjawab keingintahuan keluarga Lacks tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Henrietta & sel-selnya yang masih “hidup” & pertanyaan kenapa nasib sel HeLa tidak membuat keluarga merasakan manfaatnya, disanalah Rebecca Skloot memulai mencari informasi untuk bukunya.
Kesulitan untuk mendapat kepercayaan dari keluarga Lacks pada awalnya, menjadi tantangan tersendiri bagi Rebecca Skloot, dan diceritakan bak novel dalam buku ini. pun termasuk kehidupan keluarga Lacks pasca kematian Henrietta, pencarian akan memori tentang Henrietta dari anak-anaknya yang masih kecil saat Henrietta meninggal, dan terutama pencarian akan diapakan saja sel HeLa, semua disajikan di buku ini begitu mengalir, menyentuh, penuh kutipan dialog disana-sini bak novel fiksi. Tak lupa Skloot pun menyajikan diskusi dan perdebatan dikalangan medis, ahli hukum, dan lain sebagainya tentang pertanyaan-pertanyaan yang tertera di bagian awal tulisan ini.
Apa yang menimpa Henrietta & keluarganya bisa jadi sudah atau akan menimpa kita dalam kadar & bentuk yang berbeda, selama pertanyaan-pertanyaan di pembuka tulisan ini belum terjawab dengan tuntas hingga sekarang. Henrietta Lacks, sudah melebur menjadi “kita” “saya” dalam pertanyaan di atas dan itu berarti Henrietta bisa jadi satu diantara kita semua.
Judul Asli: The Immortal Life of Henrietta Lacks
Penulis: Rebecca Skloot
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2011
Tebal: 385 hlm
Selintas, ketika kita melihat cover buku dengan judul tersebut, mungkin kita akan berpikir kalau isi bukunya adalah karangan fiksi tentang usaha manusia yang ingin hidup abadi selama-lamanya. Seperti halnya banyka film tentang tema keabadian manusia yang diangkat. Dengan proses ritual yang aneh dan penuh magis, tokoh melakukan segala sesuatu demi terhindar dari fana nya kehidupan. Dan ternyata lain dari perkiraan, karena buku yang ditulis oleh seorang jurnalis science—Rebecca Skloot menceritakan perjalanannya dalam mencari asal muasal sel Hela selama 10 tahun. Seperti halnya saya, mungkin banyak yang belum tahu tentang sel itu, yang ternyata sangat berperan penting dalam penemuan-penemuan dalam dunia kesehatan.
Ketika kita periksa ke rumah sakit atau dokter mungin jarang sekali yang bisa berdialog aktif dengan dokternya. Atau minimal bertanya obat A untuk apa, obat B untuk apa, atau ketika kita dirawat di rongten jarang pasien yang akan bertanya apakah alat itu tidak bahaya bagi tubuh dirinya, atau barangkali ketika kia disuntik jarang yang bertanya jenis suntikannya apa, dan mungkin ketika salah satu anggota tubuh kita ada yang di ambil, apakah ada yang bertanya akan dikembalikan atau untuk apa bagian tubuh kita nanti?
Atau, ketika kita masih balita hampir semuanya pernah dikasih vaksin polio di Posyandu. Dan pernahkah kita bertanya untuk apa sih kita harus di vaksin atau mungkin bertanya dari mana sih obat-obat itu ditemukan? Saya yakin jarang. Karena pada umunya kita hanya mempercayai penuh pada petugas kesehatan.Begitu juga dengan tokoh yang ada diceritakan Rebecca dalam novelnya ini. Henreitta Lacks—seorang gadis budak yang berkulit hitam yang menderita kanker. Dan sel Hela adalah nama sel dari 2 huruf masing-masing nama Henrietta Lacks—diambil dari jaringan sel kanker yang ada di dalam tubuhnya.
Pada awalnya tidak ada yang tahu asal muasal nama itu, seperti halnya penulis yang penasaran dan ingin menyelidiki lebih dalam. Proses perjalanan itulah yang akhirnya ditulis dalam jangka waktu yang sangat lama yaitu 10 tahun. Begitu susahnya narasumber yang mau menceritakan kejadian yang sebenarnya tergambar jelas dengan banyaknya konflik yang Rebecca tuliskan.
Rupanya kehidupan Henreitta Lacks begitu malang, ketika ia menjadi pasien di rumah sakit karena menderita kanker, jaringan kanker yang ada di tubuhnya digunakan sebagai objek penelitian tanpa sepengetahuan henreitta dan keluarganya bahkan dirinya menjadi bahan percobaan para dokter waktu itu.
Sel HeLa merupakan sel manusia pertama yang bisa dikembangbiakkan di luar tubuh manusia.. sel HeLa berbeda dengn sel-sel manusia sebelumnya yg coba dibiakkan di dalam laboratorium namun tak kunjung berhasil. Sel HeLa terus berbiak tanpa henti, bahkan konon hingga sekarang. Sel HeLa sejak dibiakkan pertama kali di tahun 1950an, sudah berkembang lebih dari trliyunan kali, dan tersebar di seluruh penjuru dunia, ada di lab-lab riset dimana-mana. Sel HeLa jadi solusi untuk ujicoba & pengamatan berbagai penyakit/obat-obatan/kosmetik,dll.. solusi menguji pada tingkat sel manusia, sebelum menguji pada tingkat manusia. Sel Hela memungkinkan penemuan vaksin polio, kemoterapi, obat untuk herpes, leukimia, influenza, hemofilia, Parkinson. Bahkan sel HeLa pernah diledakkan dalam bom nuklir untuk mengetahui efek nuklir pada sel manusia, pernah dikirim ke luar angkasa untuk mengetahui efek sel manusia pada gravitasi tertentu.
Namun kesuksesan hasil dari sel yang ada diambil dari dirinya berbanding terbalik dengan derita yang dia alami dan keluarganya. Bahkan keluarga Lacks tidak mendapat kemudahan terhadap akses pelayanan kesehatan, padahal lewat sel HeLa bidang kesehatan berkembang pesat & jutaan nyawa mungkin terselamatkan. Keluarga Lacks dengan background pendidikan dasar seadanya dan otomatis tidak banyak mengerti tentang sains, mulai terusik saat jurnalis mulai tahu nama dibalik sel HeLa. Keluarga Lacks mengalami shock karena sel Henrietta masih “hidup” dan diperjualbelikan.
Ditengah rasa shock, marah, muak akan pertanyaan-pertanyaan jurnalis namun tidak bisa menjawab keingintahuan keluarga Lacks tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Henrietta & sel-selnya yang masih “hidup” & pertanyaan kenapa nasib sel HeLa tidak membuat keluarga merasakan manfaatnya, disanalah Rebecca Skloot memulai mencari informasi untuk bukunya.
Kesulitan untuk mendapat kepercayaan dari keluarga Lacks pada awalnya, menjadi tantangan tersendiri bagi Rebecca Skloot, dan diceritakan bak novel dalam buku ini. pun termasuk kehidupan keluarga Lacks pasca kematian Henrietta, pencarian akan memori tentang Henrietta dari anak-anaknya yang masih kecil saat Henrietta meninggal, dan terutama pencarian akan diapakan saja sel HeLa, semua disajikan di buku ini begitu mengalir, menyentuh, penuh kutipan dialog disana-sini bak novel fiksi. Tak lupa Skloot pun menyajikan diskusi dan perdebatan dikalangan medis, ahli hukum, dan lain sebagainya tentang pertanyaan-pertanyaan yang tertera di bagian awal tulisan ini.
Apa yang menimpa Henrietta & keluarganya bisa jadi sudah atau akan menimpa kita dalam kadar & bentuk yang berbeda, selama pertanyaan-pertanyaan di pembuka tulisan ini belum terjawab dengan tuntas hingga sekarang. Henrietta Lacks, sudah melebur menjadi “kita” “saya” dalam pertanyaan di atas dan itu berarti Henrietta bisa jadi satu diantara kita semua.



