Menu

Kamis, 04 Juni 2015

Tak Kenal Produk Keuangan Syariah Maka Tak Sayang

Aku Cinta Syariah. Setidaknya begitulah kampanye yang sedang digadang-gadang Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (DPbS OJK) guna memasifkan perekonomian syariah di masyarakat. Tagline bernuansa pop tersebut tentu saja bukan tanpa dasar dan pertimbangan. Cinta merupakan perwujudan sikap dalam hubungan yang sangat dekat dan erat. Kalau kita coba analogikan, ibarat dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, kata cinta menjadi hal yang mudah diucapkan. Namun sebelum cinta menjadi bahasa yang menyatukan dua insan, tidak serta merta kita bisa mencintai siapa saja. Ketika cinta diutarakan pada tahap awal, selalu ada dua kemungkinan yang terjadi—Penerimaan dan penolakan. Dua pilihan tersebut menjadi resiko yang harus diterima oleh si pejuang cinta.

Aku Cinta Syariah—bisa diartikan bahwa kita berada di posisi sang pejuang cinta. Layaknya analogi di atas, dapat diartikan kalau kita (masyarakat) harus berjuang untuk mendapatkan cintanya syariah. Memang, pada dasarnya kalimat tersebut merupakan bentuk persuasive untuk mengajak masyarakat lebih mengenal ekonomi syariah melalui produk keuangan syariahnya. Ada peribahasa lama yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Dari peribahasa ini, sekiranya sudah bisa menjawab apa yang akan terjadi ketika aku harus mencintai ekonomi syariah. Memang, muslim di Indonesia merupakan agama mayoritas. Bahkan Indonesia menempati urutan pertama dalam urusan jumlah penduduk muslim terbanyak dengan angka 80 % dari 230 juta jiwa penduduknya. Namun, apakah hal ini bisa menjadi jaminan semua muslim di negara kita mengenal ekonomi islam. Sepertinya belum sampai ke level kondisi tersebut.

Kalau kita berkaca dari karakteristik masyarakat muslim Indonesia, hampir sebagian besarnya merupakan masyarakat agamis yang kental dengan budaya dan adat yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kelompok islam yang terbentuk di negara kita. Tentu saja perbedaan-perbedaan tersebut akan melahirkan cara pandang yang berbeda pula tentang mengamalkan ajaran islam.

Apabila kita kaitkan dengan ekonomi syariah, tentu para pelaku ekonomi syariah ini harus memahami karakter masyarakat muslim di tiap daerah dengan corak kelompoknya—bukan dengan membalikkan logika, aku cinta syariah harus diawali oleh usaha masyarakat biasa yang kental dengan budaya tradisionalnya masing-masing.

Belajar dari Walisongo
Di Pulau Jawa ini, Islam berkembang karena peran dari Walisongo atau wali sembilan. Yakni ada sembilan yang disebut “wali” sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Kehadiran Walisongo mengakhiri dominasi kebudayaan Hindu-Budha di Nusantara yang lebih dulu masuk ke Indonesia dengan kebudayaan Islam. Peran mereka sebagai penyebar Islam di Pulau Jawa sangat terkenal dibanding tokoh-tokoh agama lainnya. Sehingga wajar, hingga kini Walisongo tak pernah luput dari sejarah Islam di Indonesia. Mereka adalah simbol penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Lalu, bagaimana mereka menyebarkan ajaran baru (islam) sehingga dengan mudah diterima masyarakat pada saat itu?

Bentuk metode dakwah Wali Sanga, di antaranya: Pertama, melalui perkawinan. Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi di antaranya bahwa Raden Rahmad (Sunan Ampel ) dalam rangka memperkuat dan memperluas dakwahnya, salah satunya, dengan menjalin hubungan geneologis.

Kedua, dengan mengembangkan pendidikan pesantren. Langkah persuasif dan edukatif ini mula-mula dipraktekkan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, kemudian dikembangkan dan mencapai kemajuannya oleh Sunan Ampel di desa Ampel Denta, Surabaya.

Ketiga, mengembangkan kebudayaan Jawa dengan memberi muatan nilai-nilai keislaman, bukan saja pada pendidikan dan pengajaran tetapi juga meluas pada bidang hiburan, tata sibuk, kesenian dan aspek-aspek lainnya. Seperti Wayang, Sekatenan, Falasafah wluku lan pacul Sunan Kalijaga.

Keempat, metode dakwah melalui sarana prasarana yang berkaitan dengan masalah perekonomian rakyat. Seperti tampilnya Sunan Majagung sebagai nayaka (mentri) unison ini. Beliau memikirkan masalah halal-­haram, masak-memasak, makan-makanan dan lain-lain. Untuk efisiensi kerja, beliau berijtihad dengan menyempurnakan alat-alat pertanian, perabot dapur, barang pecah-belah. Begitu juga Sunan Drajat tampil dengan menyempurnakan alat transportasi dan bangun perumahan.

Kelima, dengan sarana politik. Dalam bidang politik kenegaraan Sunan Girl tampil sebagai ahli negara Wali Sanga, yang menyusun peraturan-­peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara keraton. Begitu juga Sunan Kudus yang ahli dalam perundang-undangan, pengadilan dan mahkamah. Sebagai penutup untuk pembahasan tentang islamisasi Jawa oleh Wali Sanga, setidaknya ada dua faktor elementer yang menopang keunggulan dan keistimewaan dakwah para Wali. Pertama, inklusivitas para Wali dalam melihat ajaran Islam. Kedua, potensi dan keunggulan vang dimiliki oleh para Wali. Mereka telah membuktikan diri sebagai mujtahid yang memahami Islam tidak saja sebagai teori abstrak, tetapi juga sebagai realitas historis kemanusiaan.

Dari kelima aspek tersebut, para pelaku ekonomi syariah saya kira sudah mengadopsi beberapa aspek. Di antaranya dengan jalur politik, Bank syariah secara yuridis empiris dan normatif telah diakui keberadannya dengan tercatat dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Di antaranya, Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Undang-undang No. 10 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1998 tentang Perbankan, Undang-undang No. 3 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Undang-undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Selain itu, pengakuan secara yuridis empiris dapat dilihat perbankan syariah tumbuh dan berkembang pada umumnya di seluruh Ibukota provinsi dan Kabupaten di Indonesia, bahkan beberapa bank konvensional dan lembaga keuangan lainnya membuka unit usaha syariah (bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, dan sebagainya).

Melalui jalur pendidikan, Ekonomi syariah diajarkan melalui jalur formal dengan menyelenggarakan jurusan ekonomi syariah di berbagai Universitas dan perguruan tinggi di Indonesia. Direktur Pendidikan Perguruan Tinggi Islam, Kementerian Agama, Amsal Bakhtiar mengakui bahwa dalam perkembangannya untuk program studi ekonomi syariah itu cepat dan pesat. Menurutnya, dalam data Kementerian Agama, ternyata di Indonesia, pendidikan ekonomi syariah itu sudah berjumlah 295 program studi. Sayangnya, angka tersebut masih didominasi oleh perguruan tinggi di pulau Jawa.

Walaupun, kedua aspek tersebut sudah dilakukan, menurut saya masih banyak masyarakat kita yang belum mengenal sistem ekonomi syariah terlebih produk keuangan syariah. Beberapa kasus yang saya temukan, diantaranya kurangnya pendekatan para pelaku ekonomi syariah kepada masyarakat dan terutama tokoh-tokoh agama yang dekat dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Misalnya saja pola pendekatan ke masjid-masjid yang berada di perdesaan. Kita akan lebih sering menjumpai iklan atau pun kampanye ekonomi syariah yang berada di perkotaan. Padahal masyarakat perkotaan telah lebih akrab dengan perekonomian konvensional.

Kasus kedua yaitu masih banyak masyarakat yang tidak memahami konsep ekonomi syariah. Terlebih dengan penggunaan istilah-istilah baru pada produk keuangan syariah yang berbeda dengan lembaga keuangan konvensional yang terlebih dahulu familiar di telinga masyarakat. Saya kira, istilah seperti halnya mudharabah, musyarakah, nisbah, bai’almuthlaq, sharf, muqayyad, murabahah, istishna’, dan masih banyak istilah-istilah lainnya yang justru membingungkan masyarakat awam. Lain halnya Walisongo, mereka tidak secara serta merta membawa islam dengan bahasa-bahasa yang tidak dimengerti masyarakat.

Kemudian, kasus ketiga tentang konsistensi lembaga keuangan syariah yang berakibat menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk keuangan syariah yang ditawarkan. Ada satu teman saya yang punya pengalaman menggunakan produk keuangan syariah. Ia hanya memanfaatkan sekali, untuk yang kedua kalinya ia lebih memilih melakukan peminjaman ke bank konvensional. Alasannya, karena besar pengembalian yang harus ia bayar ternyata lebih murah di bank konvensional. Awal niat memanfaatkan bank syariah karena menghindari riba, akhirnya harus dibenturkan dengan nilai ekonomis dan besarnya tanggungan yang dihadapi.

Semoga ke depan, aku cinta syariah bisa sepenuhnya terimplementasi dengan adanya rasa saling percaya dan saling memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat.

Sumber: http://obedjustin.blogspot.com/2013/01/metode-dakwah-wali-songo.html
http://mysharing.co/pendidikan-ekonomi-syariah-di-indonesia-terganjal-kendala/
http://tugasmanajemen.blogspot.com/2011/04/definisi-serta-istilah-istilah-dalam.html

Rabu, 03 Juni 2015

Generasi Islam Turunan VS Radikalisme

Menurut data Pew Research Center pada tahun 2010 menyebutkan bahwa populasi umat islam berjumlah lebih dari 1,6 miliar jiwa atau sekitar 23,4 persen dari total penduduk dunia. Angka tersebut menempatkan islam sebagai agama dengan jumlah penganut tersbesar di dunia. Mereka juga memperkirakan angka tersebut akan terus bertambah hingga mencapai 35 persen pada tahun 2030.

Sejauh ini, Indonesia merupakan penyumbang terbesar jumlah muslim di dunia dengan 12,7 persen dari total muslim dunia. Di Indonesia sendiri penganut islam mendominasi dengan jumlah 205 juta jiwa atau 88, 1 persen dari jumlah penduduk. Masih dari Pew, di tahun 2010 nanti posisi Indonesia bias tergeser oleh Pakistan.

Menurut kajian mereka, perubahan itu terkait dengan menurunnya tingkat kelahiran di kalangan perempuan muslim di Indonesia. Selama 2010-2015 misalnya, setiap ibu di tanah air melahirkan dua anak. Berbeda dengan Pakistan di mana setiap ibu melahirkan 3,6 anak dalam periode yang sama. Semakin meningkatnya jenjang pendidikan tingkat lanjut disertai naiknya standar hidup dan perpindahan domisili dari desa ke kota menjadi penyebabnya.

Dari paparan di atas menunjukkan bahwa betapa berpengaruhnya laju pertumbuhan penduduk muslim dengan jumlah penganut islam. Atau dengan kata lain, banyaknya penduduk Indonesia yang menganut ajaran islam saat ini merupakan salah satu buah dari ledakan penduduk yang terjadi—bukan lahir dari perenungan untuk memahami yang kemudian terpatri menjadi sebuah keyakinan.

Adanya sebutan islam KTP misalnya, akan mudah kita temukan dari beberapa lapis kalangan masyarakat. Kecenderungan lemahnya pemahaman akan ajaran islam menjadi faktor penting dalam menjaga kemurnian islam sebagai pedoman hidup.

Sangat disayangkan apabila pedoman hidup itu diikuti tanpa keyakinan yang kuat akan kebenarannya. Maka penegasan kembali terhadap apa yang kita yakini menjadi sangat penting dalam membentuk karakter keislaman kita.

Penegasan kembali itu dapat dimulai dengan mempertanyakan kembali "Kenapa saya memilih Islam?" Untuk selanjutnya kita sendiri harus menjawab pertanyaan ini sesuai dengan keyakinan kita apa adanya. Apakah kita memeluk islam karena garis keturunan yang menganut islam? Atau memilih dengan alasan-alasan yang bersifat ilmiah, yaitu alasan-alasan yang dapat didukung dengan logika berpikir manusia.

Beragam alasan dari setiap orang pasti berbeda saya yakin terlalu banyak bila harus dibeberkan satu per satu dalam tulisan. Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan bentuk lisan (atau tulisan) dari alasan-alasan itu. Yang perlu diperhatikan adalah sekuat apa fondasi keyakinan yang dibentuk oleh masing-masing alasan tersebut.

Entah itu karena nenek moyang, karena alasan ilmiah, karena mukjizat, karena petunjuk dan karunia Allah, tetap saja yang paling penting adalah kekuatan fondasi keimanan yang dibentuk alasan tersebut. Menganggap alasan yang satu lebih lemah ketimbang alasan yang lain pun sebenarnya tidak layak untuk dilakukan karena kekuatan sebuah alasan terkait erat dengan kondisi orang yang bersangkutan.

Jangan sampai usaha kita untuk menegaskan keimanan ini malah berbalik membuat kita kehilangan pijakan. Setiap manusia memiliki karakteristik kemampuan berpikir masing-masing. Oleh karena itu jangan sampai kita disibukan dengan memikirkan (atau bahkan membuat-buat) alasan-alasan tanpa memikirkan kekuatan fondasi keimanan kita. Fokus kita dalam mempertanyakan keyakinan kita tidak lain untuk memperkuat keyakinan kita itu sendiri.

Terlebih dengan banyaknya aliran-aliran yang berkembang dalam memahami ajaran islam. Proses penerimaan ajaran islam yang hanya sebagai warisan keluarga bisa berdampak yang buruk bagi generasi penerus, apalagi jika sang pemberi waris tak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang islam. Di era keterbukaan seperti saat ini, masyarakat dihadapkan pada beberapa pilihan—apakah akan menjadi kelompok liberal, progresif, fundamentalis, radikal, atau inklusif? Atau malah ada yang tidak tahu pada kelompok mana ia berpijak.

Pada tataran bagaimana kita menemukan islam (kelompok apapun), tidak menjadi soal terhadap apa yang dipilih kalau itu merupakan hasil pemahaman dan pemaknaan terhadap apa yang diyakini. Yang menjadi soal adalah masih banyaknya kalangan yang berada di daerah abu-abu. Golongan-golongan inilah yang akhirnya bisa terjerumus pada pilihan yang salah. Kesimpulan apa yang salah dan apa yang benar memang tak bernilai absolut. Namun, saya melihat adanya konteks yang tidak tepat dengan teks. Misalkan saja di Indonesia, saat ini kelompok radikal yang sudah mulai mengancam eksistensi akan pola keberagaman masyarakat Indonesia tentu tak bisa dibenarkan.

Dalam bingkai Pancasila melalui Bhinneka Tunggal Ika dan termaktub pada kelima pasalnya, Indonesia telah menyatakan pengakuan akan keberagaman yang ada. Bukan pembenaran pada salah satu kelompok atau pemikiran.

Apabila kita kaitkan dengan laju ledakan penduduk muslim di Indonesia dengan lemahnya pemahaman ajaran islam atau pemahaman islam secara teks berimplikasi pada identitas generasi yang diciptakan. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kemunculan kembali garis islam radikal yang meresahkan warga. Tidak sedikit orangtua yang mulai khawatir akan pengaruh pemikiran radikal kepada anak-anaknya.

Pada tahun 2011, Negara Islam Indonesia (NII) berhasil merekrut anggota dalam jumlah besar. Ironisnya recruitmen itu terjadi di kalangan mahasiswa yang seharusnya dapat berpikir ilmiah. Kemudian, baru-baru ini paham radikalis muncul kembali dalam balutan ISIS. Dan lagi-lagi generasi mudalah yang menjadi incaran para penyebar ajaran radikalisme. Iming-iming surga menjadi jualan yang anehnya laris manis dimakan mentah-mentah begitu saja. Jadi, mari kita pertanyakan pada diri kita masing-masing. Dari mana asal keyakinan kita? Dan kalau kita mau ekstrim, pernahkah kita membayangkan kalau kita dilahirkan dari orangtua yang tak mengenal agama, apakah kita akan mengakui keberadaan tuhan? Dan jika kita sudah meyakini, pertanyakanlah tujuan agama kita. Apakah hanya sebatas surga dan neraka?

Di Antara Fajar dan Senja


Hanya tinggal menghitung hari, Petani di Desa Sejahtera akan memanen hasil garapannya selama 3 bulan. Bulir-bulir padi yang semakin merunduk adalah pertanda. Batangnya semakin tak mampu menahan bertambahnya berat biji. Setelahnya, mereka tinggal menanti—5 hektare persawahan terlihat seperti permadani yang terhampar dengan warna kuning keemasannya. Tak ketinggalan burung-burung emprit pun turut serta, beterbangan dari satu kotak persawahan ke kotak yang lain.

“Padinya kuning bersih ya pak,” ujar Sri sambil memegang buliran padi.

“Ya, sayangnya hasil panen kali ini takkan sampai ke lumbung kita”

“Loh..loh..kok gitu pak…” dengan nada kecewa—padahal Sri sudah menata lumbung dengan balok-balok memanjang sebagai alas tumpukan karung-karung padi.

Dengan tenang Parjo menjelaskan,”Dua bulan lalu kita berhutang banyak ke Pak Darmaji untuk biaya pengobatanmu, jadi semua yang ada di lahan ini sekarang milik Pak Darmaji. Begitu perjanjiannya.”

“Oh,,jadi bapak waktu itu pinjem ke tengkulak itu,”

“Ya gimana lagi bu,,saat itu hanya dia yang bisa kasih pinjaman. Apa iya aku tega biarkan ibu tergeletak di kamar terus dengan batukmu yang aku sendiri takut mendengarnya.”

Mendengar itu, Sri menunduk tak tega melihat raut muka Parjo yang habis ia marahi. “Ya dah pak, ayo kita pulang saja.”

Mereka berjalan perlahan menyusuri kecilnya pematang sawah. Di saat hampir sampai tepi jalan desa, mereka berpapasan dengan Pak Darmaji. Ia memakai setelan hem putih bersih dan celana jins. “Padinya bagus kan pak?” sapa Pak Darmaji.

“Batangnya sampai tak mampu menahan bulir padinya pak. Beruntung bapak,” timpal Parjo dengan sedikit kecewa mengingat harga padi yang juga lagi tinggi.

“Baguslah,” Pak Darmaji kegirangan mendengarnya.

Setelah berpapasan dengan Pak Darmaji, kedua suami istri itu masih berjalan lamban dan masing-masing diam—tanpa sepatah kata menyusuri jalan desa yang jauhnya sekitar 1 km menuju rumah mereka.

“Padahal kalau di panen sendiri, hasilnya jauh melebihi dari besar hutang,” gumam Parjo dalam hati. Sambil menekuk beberapa jari tangannya— memperkirakan uang yang akan didapat jika dipanen, “Paling tidak itu ada satu ton, kalau harga padi sekarang Rp 450 ribu per kuintalnya berarti Pak Darmaji dapat Rp 4,5 juta,” seloroh Parjo dengan penuh kecewa. Padahal ia hanya meminjam Rp 2,7 juta saja.

“Anak lanang1 ku….” Teriakkan Bu Darmaji itu sentak memecah keheningan langkah Parjo dan Sri.

“Ada apa ya?” kata Sri sambil menatap suaminya—tepat di depan rumah berlantai dua dipagari teralis menjulang tinggi mengitari pekarangan yang luas—cukup untuk jadi lapangan bola. Dari kejauhan Nampak seorang berpawakan tinggi rupawan, berkulit putih turun dari mobil sedan menyangking tas-tas besar dengan kedua tangannya. “Kayaknya anak Pak Darmaji baru pulang. Kalau ngga salah Fikri pa ya bu,” timpal Parjo. Sri hanya mengangguk, mengiyakan kata-kata suaminya dan mereka mulai mempercepat langkah setelah melewati kediaman Pak Darmaji.

Di esok paginya, jamaah di Mushola Baiturrahman bertambah satu melengkapi shaf sehingga penuh—jamaah saat solat subuh memang selalu paling sedikit, tak nyampai penuh 1 shaf. Setelah solat selesai, Fikri menyalami satu per satu jamaah yang semuanya sudah berumur lebih dari 60 tahun.

1 Anak Lanang (Bahasa Jawa) yang artinya anak laki-laki

“Kamu anaknya Pak Darmaji ya,” tanya seorang jamaah yang keseluruhan rambutnya sudah memutih. Belum sempat menjawabnya, sang kakek langsung memeluk dan mengusap bahu Fikri. “Alhamdulillah,” lanjutnya.

Selepas memeluk Fikri, sang kakek tanpa berkata apa-apa lagi langsung pergi dan Fikri masih bengong—bertanya dalam hati. “Maksudnya apa ya?”

Sebelum matahari nampak, Fikri berjalan-jalan menyusuri jalan-jalan kecil desa. Segarnya udara pagi dan kicauan burung-burung membuatnya lupa sudah berapa jauh ia melangkahkan kakinya. Ia terhenti ketika melewati rumah Pak RT. Ia terheran dengan banyaknya warga yang berjajar memanjang sampai ke luar halaman rumah Pak RT. Bahkan ada yang duduk-duduk di sekelilingnya.

“Ada apa ya pak,” Tanya Fikri ke lelaki paruh baya yang berdiri paling ujung barisan yang tak lain adalah Parjo.

“Biasa mas, ngantri jatah beras miskin,” timpal Parjo.

Fikri terdiam sejenak, berpikir kalau di desanya yang baru panen seharusnya tak ada lagi antrian pembagian beras miskin. “Bukannya habis panen pak?”

“Sudah habis mas.”

Fikri semakin bingung dengan jawaban Parjo. Tidak mungkin hanya berselang beberapa hari saja mereka (para petani) tak punya padi untuk digiling. “Orang macam apa yang makannya puluhan kilo beras,” gumam fikri keheranan. “Padahal bapak yang bukan petani punya stok beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan orang se-RT dalam satu bulan.”

Setibanya di rumah ia bertanya ke bapaknya. Saat itu Pak Darmaji tengah duduk di halaman depan—membaca koran dan ditemani kopi panas bikinan ibu, Fikri langsung bergabung dengannya.

“Pak, tadi di rumah Pak RT, warga banyak yang ngantri beras miskin.

Padahal mereka kan baru panen ya pak?

Pak Darmaji melipat korannya, kemudian berdiri dan menggandeng Fikri ke gudang. “Itu padi-padi mereka. Para petani di sini menjualnya ke bapak.”

Fikri semakin dibuat bingung dengan jalan pikiran orang-orang di desanya. ”Begitulah orang-orang desa, ngga ngerti manajerial,” Pak Darmaji menjelaskannya—melihat anaknya bengong.

…….

Selang beberapa hari di rumah, Fikri selalu menyempatkan diri jalan-jalan dan ngobrol dengan para warga desa setelah selesai solat subuh di mushola. Setelah capai berkeliling, seringnya ia mampir ke rumah Parjo yang berada di tepi sungai.

“Bu..buatin teh buat mas Fikri..,” kata Parjo. “Apa mau sarapan yuk.. tapi menu kami ngga seenak di tempat mas Fikri.”

“Sama aja kok pak, enak ngga enak kan tergantung bagaimana kita menikmatinya bukan jenis makanannya. Tapi saya memang ngga biasa makan terlalu pagi pak..” tolak Fikri dengan kerendahan hati.

Fikri malah jadi teringat waktu banyak warga desa di rumah Pak RT. “oh ya pak, setelah melihat antrian di rumah Pak RT itu, sebenarnya saya bingung,” “Bingung kenapa mas,” timpal Parjo.

Akhirnya Fikri bertanya tentang kehidupan para petani di desanya. Setelahnya Parjo menjelaskan bagaimana peliknya menjadi seorang petani. Hasil panen yang di dapat petani, tak sebanding dengan pengeluaran biaya pengelolaan dan juga biaya hidup yang semakin tinggi.

“Belum lagi berurusan dengan tengkulak mas. Sebagian besar para petani di sini berhutang ke tengkulak, dan sebaai gantinya garapan sawahnya menjadi milik tengkulak,” Parjo kelepasan, dan baru menyadari kalau Fikri adalah anak Pak Darmaji. “Eh, maaf..”

“Loh kok maaf, mang kenapa?” Fikri belum sadar bahwa yang dimaksud Parjo tak lain adalah ayahnya sendiri.

Parjo terdiam dan kebingungan menjawabnya. Ia lantas berdiri dari kursinya dan mengajak Fikri melihat kambing peliharaanya di kandang belakang rumah.

“Banyak juga pak”

“Ini bukan hanya milik sendiri mas, ada 4 ekor punya tetangga. Bapak pelihara dari kecil, kemudian kalau sudah besar nanti dibagi keuntungannya.

Kalau punya bapak Cuma 2 ekor mas..” timpal Parjo sambil menunjukkan satu per satu kambing di kandangnya.

“Oh begitu, ya lumayan buat tabungan ya pak..”

Setelah sinar matahari sudah mulai menghangatkan kulitnya, Fikri memutuskan untuk pamitan dan balik ke rumah.

Sesampainya di rumah, Ia melihat bapak yang tengah meimbang karung-karung padi yang kemudian ditata rapi di truk besar untuk dijual ke pemasok di kota.

Melihat itu, Fikri kembali teringat kata-kata Parjo. “Belum lagi berurusan dengan tengkulak,” gumam Fikri mengulang perkataan Parjo.

“Tengkulak..berarti itu bapakku.”

“Fik..Fikri..”

“Oh, ya pak,” jawab Fikri tersadar dari lamunannya.

Lantas, Fikri berlari mendekati Pak Darmaji yang tengah sibuk menghitung dengan kalkulator besarnya.

“Ini, bantuin hitung, sambil belajar bagaimana usaha seperti bapak,” suruh Pak Darmaji.

Fikri hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Teringat pembicaraan yang baru saja terjadi dengan Parjo.

“Ini kalkulatornya,”

Fikri meraih kalkulator yang disodorkan Pak Darmaji dan mulai menghitung berat per karung. “Aku akan jadi tengkulak?” gumam Fikri dalam hati.

……

Malam harinya, Fikri masih kepikiran apa yang terjadi di siang hari. Jarum jam dinding yang kecil sudah berada di angka 12 dan ia belum bisa memejamkan mata.

Sistem jual beli ijon tak sesuai dengan ajaran nabi. Itu haram.

Fikri teringat kata-kata yang pernah dikatakan dosennya waktu di perkuliahan. “Berarti selama ini, keluargaku makan uang…” Fikri tak berani meneruskan kata itu. Ia kembali hanyut dalam lamunan. “Koperasi” teriak Fikri, “Ya,, koperasi.”

Seperti biasanya, di pagi Ia mengelilingi desa dan Ia sempatkan lebih banyak waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan orang desa. Ia mengajak seluruh petani untuk membangun kembali koperasi yang sudah lama mati. Fikri menjelaskan secara detil konsep koperasi yang akan dibangunnya.

Mulai dari sistem keanggotaan, proses sistem simpan pinjam tanpa bunga, tetapi melalui sistem bagi hasil, dan kemudian akan dikembangkannya pertanian organik. Pupuk organik nantinya berasal dari pengelolaan sapi dari koperasi dan kemudian kotoran-kotorannya akan diolah kembali menjadi pupuk. Dengan pembagian pupuk ke anggota, nantinya semua petani di desa tak perlu lagi membeli pupuk dan obat-obatan organik. Tak hanya itu, jika terus berkembang, koperasi akan mengelola penjualan gabah petani, dan bisa juga dibangun pabrik penggilingan sendiri. Jadi petani nantinya bisa menjual beras langsung atau melalui kemasan yang menarik sehingga menambah harga jual dan tentunya meningkatkan pendapatan petani.

Tidak ingin berlama-lama, Fikri beserta perwakilan warga yang di antaranya Parjo langsung menemui kepala desa dan mengutarakan konsepnya. Melihat respon positif warga yang begitu antusias menjadi dorongan semangat yang begitu besar bagi Fikri. Setelah mendengar penjelasan Fikri, Pak Budi, Kepala Desa Sejahtera hanya mengangguk-angguk dan kemudian ia berdiri dan mengajak Fikri ke ruang sebelah dan bicara empat mata dengan Fikri.

“Kamu yakin dengan usulmu, bagaimana bapakmu nanti?” tanya Pak Budi.

Fikri langsung menundukkan kepala, dan sesaat keduanya terhening. “Benar kata bapak, tapi saya sudah memikirkannya matang-matang. Apapun resikonya, sepenuhnya itu tanggungjawabku pak,” jawab Fikri dengan lirih.

Sebelum Pak Budi bicara, tiba-tiba Pak Darmaji membuka pintu. Dengan muka merah padam, Pak Darmaji masuk dan duduk di samping Fikri. Tubuh Fikri langsung gemetaran. Rasa takut dan bersalah kepada bapaknya menyelimutinya, tetapi sejenak ada rasa bersalah juga kepada warga desa.

“Ada apa ini?” tanya Pak Darmaji dengan nada meninggi.

Fikri terus-terusan menunduk tak mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya Pak Budi menjelaskan duduk persoalannya terkait keinginan warga yang dimotori anak kesayangan Pak Darmaji sendiri.

“Kamu, anak tidak tau diri…! Kamu sekolah tinggi-tinggi juga karena usaha bapak, sekarang kamu mau hancurkan seketika..!”

“Sabar pak, ngga enak didengar warga,” Pak Budi mencoba menenangkan Pak Darmaji.

Kemudian Fikri akhirnya berani angkat bicara. Dengan penuh kehati-hatian—takut emosi bapaknya semakin meledak, Fikri menjelaskan konsep koperasi syariahnya dari awal kembali.

Sementara Pak Darmaji mendengarkannya dengan seksama, ngga mau kelewatan sepatah kata pun.

“Jadi semua warga nanti berhak menjadi anggota, termasuk bapak. Dan yang sudah tergabung jadi anggota akan mendapatkan porsi kerja dan keuntungan yang adil bagi setiap orang,” kata Fikri menjelaskan.

“Walau tak sebanyak apa yang kita dapat sekarang pak, tapi setidaknya ini lebih dianjurkan dalam agama.”

Kini giliran Pak Darmaji yang terdiam. Ia menopang kepalanya di atas meja dengan tangan kanannya. Selama seperempat jam ruangan itu bisu, hingga akhirnya Pak Darmaji keluar ruangan tanpa mengatakan apa pun. Pak Darmaji langsung meninggalkan balai desa, dan warga yang berkerumun di luar menepi membuka jalan bagi Pak Darmaji yang berjalan selambat siput.

Akhirnya pembicaraan terkait koperasi syariah yang diusulkan Fikri terus berlanjut sampai Adzan Maghrib menghentikannya. Dari permusyawaratan itu, diputuskan Fikri menjadi koordinator sementara pendirian koperasi.

Kemudian, semua warga membubarkan diri masing-masing. Fikri dengan langkah cepat langsung pulang ke rumah, namun ia terhenti di dekat mushola.

“Hayya’ alash shalaah… hayya’ alash shalaah…”

“Suara itu..” Fikri berdiri sejenak mendengarkanya.

“Hayya’ alal falaah… Hayya’ alal falaah…”Allaahu Akbar Allahu Akbar.

Laa Ilaaha Illallaah.

“Itu suara bapak..” Fikri langsung berlari menuju mushola. Dengan gontai Ia bersujud di depan bapaknya dan meminta maaf.

“Sudah nak,, kamu benar..justru bapak malu dengan diri sendiri,” ucap Pak Darmaji penuh kelembutan. “Satu-satunya kesalahanmu adalah tidak mengingatkan bapak secara langsung.”

“Iya pak,,maaf Fikri memang salah..”

Akhirnya mereka berpelukan dan melanjutkan sholat berjamaah.

Di Antara


Bukankah garuda telah mencengkeram kita

Menjadikan kedirian dalam eka

Sementara ada nama yang merasa berbeda

Membicarakan kebenaran di bawah hakikat

Terlibat keangkuhan atas nama manusia

Jokowi, Xi Jinping, dan Hukuman Mati


“Aku mah setuju aja mereka dihukum mati, toh mereka (para pengedar narkoba) juga sudah menyebabkan kematian banyak orang.”

“ngga manusiawi!!!”

Status-status seperti itu tentunya banyak kita jumpai di berbagai jejaring sosial pada akhir April lalu. Semua orang beramai-ramai ikut bersuara terkait pro-kontra keputusan Jokowi menolak grasi dan mengeksekusi delapan terpidana mati. Dan menunda satu terpidana yaitu Mary Jane yang berasal dari Filipina.

Pada tulisan sebelumnya di basa-basi.com, Edi AH Iyubenu juga sudah membahas tentang hiruk pikuk hukuman mati. Dan kali ini saya tidak akan membahasnya lagi, apakah hukuman mati bagi para pengedar narkoba itu pantas atau tidak. Yang ingin saya soroti justru terkait waktu pelaksanaan eksekusi yang dilakukan setelah Konferensi Asia Afrika (KAA).

Apakah ada hubungannya eksekusi mati terpidana mati dan KAA???

Sebelumnya, masyarakat Indonesia menunggu kepastian pemerintah akan mengeksekusi para terpidana dari Maret lalu. Karena waktu yang tidak jelas saat itu, sempat juga tersiar bahwa Indonesia ketakutan akan kecaman dari luar negeri. Karena dari kesembilan terpidana hanya satu yang warga negara Indonesia.

Mulai dari pemerintah Brazil, Belanda, Australia, Prancis, dan bahkan PBB ikut mengecam kebijakan Indonesia. Ada yang menarik duta besarnya, ada yang menolak duta besar Indonesia, dan Australia mengancam boikot kunjungan ke Bali. Di mana bali adalah surganya warga negara Australia dan kalau ada boikot maka Bali akan sepi pengunjung.

Mendengar kecaman dari berbagai Negara itu, Jokowi terlihat tak bergeming dan menyatakan akan tetap kukuh melanjutkan rencananya. Akan tetapi ada periode ketidakjelasan terkait waktu pelaksanaan yang pasti.

Sedang mempersiapkan Konferensi Asia Afrika menjadi alasan pemerintah pada saat itu. Dan akhirnya Jokowi memutuskan akan mengeksekusi setelah perhelatan internasional yang diadakan di Bandung itu. Konferensi itu terlihat sukses besar karena berhasil mendatangkan puluhan Negara dari Asia dan Afrika. Walaupun dihadiri banyak negara, tapi yang sering kita lihat di pemberitaan justru dua wajah dari dua Negara yang selalu berdampingan.

Yang satu adalah Presiden kita, Jokowi dan yang satunya dari Tiongkok Xi Jinping. Mereka terlihat begitu mesra berduaan. Mulai dari selalu jalan beriringan di garis terdepan di antara Negara-negara lainnya, kemudian selalu duduk berdampingan dan bahkan berpakaian batik dengan warna yang sama saat jamuan makan.

Yang menarik lagi adalah pidato Jokowi saat membuka perhelatan akbar tersebut. Dengan terang-terangan Jokowi menyebut adanya ketidak seimbangan global dalam percaturan politik dan ekonomi dunia. Kalau di zaman SBY, Indonesia lebih menganut sejuta kawan tanpa musuh lain lagi dengan presiden kita saat ini. Sepertinya Jokowi mengindikasikan siap bertentangan dengan beberapa negara barat dengan porosnya Amerika.

Masih terkait pidatonya, Jokowi bahkan berani mengajak negara Asia Afrika untuk merefomasi PBB dan tak bergantung lagi pada bank dunia bikinan barat. Ternyata bukan hanya Soekarno yang berani ngomong kayak gitu. Rupanya dibalik kekaleman Jokowi, Ia memiliki mental keras Bung Karno yang sangat tegas dalam arah politik dunia. Tetapi, tidak mungkin Jokowi seberani itu jika tanpa backing-an.

Ya..sudah dapat ditebak bahwa negeri tirai bambo melalui Xi Jinping adalah aktornya. Dan dengan kata lain poros Indonesia saat ini berkiblat pada sang penguasa dunia yang baru. Ini terlihat dari berbagai kerjasama yang disepakati antar dua negara.

Dari situs Sekretariat Kabinet disebutkan, proyek infrastruktur yang menggandeng Tiongkok antara lain pembangunan 24 pelabuhan, 15 bandar

udara (bandara), pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer (km), pembangunan jalan kereta api sepanjang 8.700 km, serta pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 megawatt (MW).

Luar biasa. Semoga itu bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Lagi-lagi, kita hanya bisa berharap dan tidak tahu realisasinya nanti seperti apa. Apakah akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia atau malah meningkatkan keuntungan Tiongkok sebagai negeri imperialis yang baru??

Akhirnya, tak menunggu lama setelah KAA selesai, tanggal pasti eksekusi ditetapkan di akhir April lalu. Kecaman dan Ancaman negara-negara barat hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Rupanya kesuksesan KAA menjadi tameng yang sekaligus benteng kekuatan kebijakan politik luar negeri Jokowi—termasuk kebijakan Jokowi menghukum mati tujuh warga negara asing.